PARLEMENTARIA.ID – SENAT AS pada Rabu memberikan suara 51-50 untuk secara efektif memblokir resolusi bipartisan yang bertujuan membatasi wewenang Presiden Donald Trump dalam menggunakan kekuatan militer di Venezuela. Seperti dilansir Xinhua dan dikutip Antara, hal ini terjadi setelah dua senator Partai Republik membelot di bawah tekanan kuat dari Gedung Putih.
Setelah Senator Josh Hawley dan Todd Young mengubah sikap mereka dan membuat sidang mengalami kebuntuan (deadlock) dengan suara 50-50, Wakil Presiden AS JD Vance menggunakan hak suara penentu pada sebuah mosi procedural. Hal ini menggagalkan langkah yang sedianya akan mewajibkan Trump untuk mendapatkan persetujuan Kongres sebelum mengambil tindakan militer lebih lanjut di negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut.
Young, yang sempat berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, pada Rabu mengatakan kepada CNN dirinya mendapatkan “kepastian pribadi yang cukup luas” dari pemerintahan Trump mengenai peran AS di Venezuela.
Young mengatakan pihak Gedung Putih akan “menghadap Kongres” dan meminta persetujuan Kongres AS sebelum melakukan “setiap operasi militer besar-besaran di Venezuela,” sambil menambahkan bahwa Rubio akan memberikan kesaksian di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada bulan ini, menurut laporan.CNN.
Pada hari yang sama, Hawley juga mengatakan Rubio meyakinkannya bahwa tidak akan ada pasukan darat yang dikirim ke Venezuela, dan pemerintah akan meminta persetujuan Kongres jika situasinya berubah.
Resolusi ini diajukan setelah operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang menyebabkan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Pekan lalu, Senat AS memutuskan untuk menyetujui resolusi kewenangan perang dengan hasil suara 52 lawan 47.
Trump secara terbuka mengkritik lima anggota Partai Republik yang bergabung dengan semua anggota Partai Demokrat untuk mendukung rancangan undang-undang (RUU) tersebut, mengatakan mereka “tidak boleh dipilih lagi.”
Menurut laporan The Hill, Presiden Trump juga menghubungi masing-masing dari lima senator tersebut melalui telepon untuk menyampaikan kekecewaannya terhadap suara mereka.***









