
PARLEMENTARIA.ID – Pasar saham global mengalami penguatan yang signifikan pada awal minggu ini, meskipun para pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Data ekonomi yang kuat dari Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan indeks saham, seperti S&P 500 dan Nasdaq 100.
- Indeks S&P 500 naik sebesar 0,8% sementara Nasdaq 100 melonjak hingga 1,5%. Yield obligasi pemerintah AS dengan jatuh tempo 10 tahun juga meningkat sebesar 3 basis point menjadi 4,09%.
- Dolar AS melemah sebesar 0,3% karena sentimen risiko yang lebih tinggi terhadap pasar.
Selain itu, laporan data ekonomi AS menunjukkan peningkatan pesat dalam sektor layanan. Indeks ISM Service naik menjadi 56,1, mencatatkan ekspansi tercepat sejak pertengahan 2022. Hal ini didorong oleh permintaan pasar yang kuat serta lonjakan pesanan baru.
Data pekerjaan juga menunjukkan bahwa ekonomi AS menambahkan 63 ribu pekerjaan pada bulan Februari 2026, melebihi estimasi sebesar 50 ribu.
Pergerakan Harga Komoditas
Meski sebagian besar komoditas energi mengalami penurunan pada perdagangan semalam, secara keseluruhan harga komoditas tetap menunjukkan kenaikan yang signifikan selama minggu ini.
- Minyak WTI mengalami kenaikan sebesar 13%.
- Batubara thermal meningkat 12%.
- Gas alam mengalami lonjakan terbesar, dengan kenaikan sebesar 40% di pasar Asia dan 52% di pasar Eropa.
Di sisi lain, melemahnya dolar AS membuat harga logam mulia dan logam lainnya menguat.
- Timah naik 4,6%.
- Nikel meningkat 3%.
- Tembaga naik 0,9%.
- Emas menguat 1,5%.
Rebound Pasar Regional Asia
Bursa saham di Korea Selatan dan Jepang yang sempat turun kemarin kini mengalami rebound signifikan. KOSPI melonjak 12%, sedangkan Nikkei naik 4,2%. Indeks Jakarta Composite Index (JCI) yang turun 4,6% kemarin juga memiliki potensi untuk mengikuti tren penguatan hari ini.
Sinyal psikologis pasar telah terlihat sesuai dengan prediksi sebelumnya. JCI berada pada level support mid-band trend bullish yang telah bertahan selama dua dekade. Penurunan hanya terjadi pada saat Devaluasi Yuan, wabah virus corona, dan tarif AS.
Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
Dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian, beberapa strategi investasi menjadi penting:
- Sektor energi dan komoditas tetap menjadi pilihan utama, baik dalam skenario konflik geopolitik yang pendek maupun panjang.
- Sektor perbankan yang kembali tertekan memberikan ruang bagi investor value untuk kembali masuk ke pasar, terutama mengingat momentum musim pembagian dividen yang akan dimulai bulan depan.
- Arus keluar investor asing terbatas, karena mayoritas sentimen negatif telah terpriced-in oleh pasar. Investor asing hanya tercatat sebagai net seller sebesar Rp118 miliar.
Sejumlah Sektor yang Menarik Perhatian
Sektor Konsumen Staple
Meskipun ada risiko kenaikan harga minyak Brent akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, sektor ini tetap menarik karena valuasi yang murah secara historis. Adanya stimulus pemerintah juga memberikan sinyal pemulihan daya beli masyarakat.
CPO (Crude Palm Oil)
Produksi CPO di Malaysia diperkirakan akan mengalami penurunan drastis setelah bencana banjir di Sabah memengaruhi produksi. Hal ini dapat memengaruhi harga dan pasokan minyak nabati global.
Teknologi dan Infrastruktur
Huawei secara resmi meluncurkan jaringan 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1.4GHz komersial pertama di dunia. Ini menjadi langkah penting dalam pengembangan infrastruktur digital global.
Medco Energy Group
Medco Energy Group menyatakan bahwa tidak ada dampak langsung terhadap aktivitas produksi atau operasional aset mereka di Oman, termasuk di Blok 60 dan Blok 48.
Agenda Korporasi dan Ekonomi
Beberapa agenda korporasi dan ekonomi yang penting antara lain:
- RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) untuk beberapa perusahaan seperti MDRN, SKYB, BSWD, KUAS, BBNI, ELPI, FUJI, HAIS, DSSA, PGUN.
- Laporan ekonomi AS terkait neraca perdagangan dan klaim pengangguran.
Update Informasi Pasar
Pasar obligasi Indonesia diprediksi akan melemah dalam jangka pendek. Namun, pasar saham China dan Hong Kong mengalami lonjakan setelah Beijing mengumumkan target pertumbuhan 2026. Di sisi lain, penurunan outlook oleh Fitch dinilai memiliki dampak yang mixed bagi Indonesia.








