
PARLEMENTARIA.ID – Ayatollah Ali Khamenei adalah tokoh penting dalam sejarah politik Iran. Ia menjadi pemimpin tertinggi negara tersebut selama beberapa dekade, mengambil alih peran setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989. Kehidupannya penuh dengan perjuangan, konflik, dan keputusan politik yang berdampak besar bagi Iran.
Keluarga Ayatollah Ali Khamenei Berkeyakinan sebagai Keturunan Nabi Muhammad SAW
Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada tahun 1939 dari orang tua asal Azerbaijan di Mashhad. Pemimpin tertinggi Iran itu tumbuh dalam lingkungan sederhana. Ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama yang menjauhi kemewahan duniawi. Keluarga ini tinggal di rumah sederhana dengan satu kamar saja. Meski hidup sederhana, Javad Khamenei disegani masyarakat. Ia sering menjadi imam salat di dua masjid di Mashhad. Keluarga tersebut merupakan keturunan Ali Zeyn-ol-Abedin, Imam keempat Syiah Islam. Ali Khamenei sendiri pun mengklaim bahwa dia masih memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Berkat hal ini, dua saudara kandung Ali Khamenei juga mengikuti jejak ayah mereka sebagai ulama. Untuk melegitimasi diri mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW, tiga saudara kandung ini mengenakan sorban hitam.
Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah Guru Ali Khamenei
Sebagai seorang ulama terkemuka di daerahnya, Javad Khamenei ingin agar putra-putranya mengenyam pendidikan agama Islam. Jadi, Ali Khamenei pun bersekolah di usia 4 tahun, di sekolah Muslim yang disebut maktab. Setelah menempuh pendidikan di Najaf, Irak, pada 1957, ayahnya meminta Ali Khamenei untuk kembali ke Iran. Di Qom, ia mengambil kelas dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, calon pemimpin Revolusi Iran. Aktivitas revolusionernya, yang didorong oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini yang saat itu diasingkan, membuat Ali Khamenei ditangkap 6 kali.
Tidak Ada yang Menyangka Jika Ayatollah Ali Khamenei Akan Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Ali Khamenei memang mahasiswa yang cukup menonjol ketika ia menempuh pendidikan di Qom. Namun, tidak ada yang menyangka kalau ia akan menjadi tokoh politik Iran yang sangat disegani dan bahkan menjadi pemimpin tertinggi Iran. Keponakannya, Mahmood Mordankhani, menjelaskan kepada BBC bahwa Ayatollah Ali Khamenei adalah orang yang mencintai puisi. Ali juga sangat ramah dan terbuka. “Namun, yang menarik,” kata Mahmood Mordankhani, “dalam ingatan saya, Ali Khamenei adalah orang yang sederhana.” Penulis biografi Mehdi Khalaji membenarkan pernyataan-pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa Ali Khamenei adalah orang sederhana. Mehdi pun beranggapan bahwa kesederhanaan itulah yang membuat Ali Khamenei sukses.
Ayatollah Ali Khamenei Pernah Jadi Presiden Iran Selama 2 Periode Meski Tak Punya Kekuasaan
Ali Khamenei sempat diasingkan dari ibu kota Teheran selama 3 tahun ketika Revolusi Iran meletus. Namun, karena dihormati dan dipercaya oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang saat itu menjadi penguasa tertinggi pertama Republik Islam Iran yang baru, Ali Khamenei justru naik jabatan dalam pemerintahan Iran. Setelah beberapa waktu menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, imam, dan wakil menteri pertahanan, Ali Khamenei terpilih menjadi anggota legislatif sebagai anggota Partai Republik Islam atau Islamic Republican Party (IRP), lembaga politik yang turut didirikannya. Tak lama kemudian, Ali Khamenei menjadi presiden Iran. Namun, presiden Iran pada saat itu hanya jabatan seremonial. Sebab, kekuasaan politik dipegang sepenuhnya oleh perdana menteri.
Ali Khamenei Pernah Menjadi Target dari Upaya Pembunuhan yang Nyaris Menewaskannya
Republik Islam Iran tidak terlepas dari bentrokan setelah Revolusi Iran. Banyak mantan sekutu Ayatollah Ruhollah Khomeini, termasuk kelompok sayap kiri dan komunis, merasa dikhianati dan tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Mujahidin-e Khalq, yang merupakan tokoh oposisi Marxis, melancarkan kampanye pemberontakan terhadap para pemimpin pemerintahan teokratis baru di Iran pada awal tahun 80-an. Pada Juni 1981, Ali Khamenei berpidato di sebuah masjid di Teheran. Di sana, sebuah bom yang disembunyikan di dalam perekam pita audio meledak. Akibatnya, lengan kanan Ali Khamenei lumpuh akibat ledakan itu. Tak hanya itu, paru-paru serta suaranya juga mengalami kerusakan. Ia pun harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan.
Suksesi Ali Khamenei Memerlukan Revisi Konstitusional
Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia pada 1989. Kepergiannya ini meninggalkan kekosongan dalam pemerintahan Republik Islam Iran. Selama hampir 10 tahun, calon pengganti Ayatollah Ruhollah Khomeini diasumsikan adalah Hussein Ali Montazeri. Namun, Hussein Ali Montazeri sering mengkritik pemerintahan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia pernah mengatakan bahwa badan intelijen rezim Ayatollah Ruhollah Khomeini lebih brutal daripada badan intelijen Syah. Pernyataan kontroversialnya ini pun membuatnya kehilangan dukungan dari kalangan politikus Iran. Putra Ali Khomeini dan seorang ulama terkemuka Iran mengaku menjadi saksi bahwa sebelum Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia, Ruhollah Khomeini pernah berwasiat dan menunjuk Ali Khamenei sebagai penggantinya untuk menjadi pemimpin tertinggi.
Ali Khamenei Memiliki Hubungan yang Panjang dengan Garda Revolusi Iran (IRGC)
Sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989, Ayatollah Ali Khamenei didukung oleh Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Asosiasi tersebut sudah ada sebelum jabatan Ayatollah Ali Khamenei saat ini. Sebab, Ali pernah menjadi komandan IRGC. Meskipun pernah menjadi pemimpin IRGC, para anggota IRGC tidak begitu yakin dengan pandangan Ayatollah Ali Khamenei sepanjang 1980-an. Sebab, IRGC menganggap bahwa Ayatollah Ali Khamenei terlalu moderat. Ketidakpercayaan IRGC begitu tinggi sehingga Ayatollah Ali Khamenei pernah ditolak untuk mengunjungi garis depan Perang Iran-Irak. Namun, pada tahun 1989, Ayatollah Ali Khamenei justru menjadi pemimpin tertinggi Iran, meski tanpa kepercayaan penuh dari para tetua rezim.
Ali Khamenei Dikenal Sederhana dan Tidak Suka Kemewahan
Contoh hidup sederhana yang ditunjukkan ayahnya masih melekat pada Ayatollah Ali Khamenei sepanjang hidupnya. Ayatollah Ali Khamenei pernah bercerita tentang masa kecilnya yang tinggal di rumah dengan satu kamar tidur, hanya makan roti dan kismis untuk makan malam, dan tidak membeli pakaian baru jika pakaiannya bolong. Alhasil ibunya akan menjahit pakaiannya yang bolong dengan pakaian bekas ayahnya. Rupanya, masyarakat Iran juga berasumsi bahwa Ali Khamenei masih hidup sederhana hingga saat ini. Bukan karena keterbatasan, kesederhanaan yang ditunjukan Ali Khamenei merupakan pilihannya sendiri. Sebagai pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei sudah pasti tercukupi dari segala aspek, tapi ia lebih memilih hidup apa adanya dan tidak berlebihan.











