PARLEMENTARIA.ID – Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mencapai cakupan imunisasi campak yang optimal. Meski penyakit ini dapat dicegah melalui vaksin, persentase balita yang mendapatkan imunisasi campak di negara ini belum mencapai angka 100%. Data terbaru menunjukkan bahwa hanya sekitar 63,52% balita di Indonesia menerima vaksin campak, angka yang lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Tingkat Cakupan Imunisasi Berbeda-Beda di Setiap Wilayah
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan bahwa cakupan imunisasi campak berbeda-beda antar provinsi. Aceh menjadi salah satu wilayah dengan cakupan terendah, hanya 27,79% balita menerima vaksin pada 2025. Sementara itu, Papua Pegunungan dan Sumatera Barat juga memiliki cakupan yang rendah, masing-masing sebesar 36,69% dan 43,5%.
Di sisi lain, beberapa provinsi seperti Yogyakarta, Bali, dan Jakarta menunjukkan cakupan yang lebih tinggi. Yogyakarta mencapai 83,42%, Bali sebesar 79,62%, dan Jakarta dengan 73,61%. Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan dan program imunisasi yang diterapkan di daerah tertentu lebih efektif dibandingkan wilayah lain.
Alasan Orang Tua Tidak Membawa Anak untuk Divaksin
Dalam laporan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, sebanyak 74,43% orang tua khawatir akan efek samping vaksin. Selain itu, 41,37% orang tua takut dengan kandungan dalam vaksin. Hal ini menjadi salah satu penghambat utama dalam meningkatkan cakupan imunisasi.
Meskipun biaya menjadi alasan yang relatif kecil (6,28%), banyak orang tua tidak tahu tentang program imunisasi yang tersedia. Angka ini mencerminkan pentingnya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat vaksin.
Penurunan Kasus Kematian Akibat Campak
Upaya global dalam pencegahan campak telah memberikan dampak positif. Menurut data Our World in Data, jumlah kematian akibat campak di Indonesia turun secara signifikan dari 59.000 kasus pada 1980 menjadi 1.690 kasus pada 2023. Penurunan ini menunjukkan bahwa program imunisasi yang dikelola oleh World Health Assembly (WHA) telah berhasil mengurangi risiko penyakit tersebut.
Situasi Terkini Kasus Suspek Campak
Pada 2025, Indonesia mencatat jumlah kasus suspek campak tertinggi dalam 10 tahun terakhir, yaitu 63.769 kasus. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 2024 yang hanya mencatat 25.639 kasus. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah kasus terbanyak, disusul Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Aceh, yang memiliki cakupan imunisasi terendah, juga menjadi provinsi dengan jumlah kasus suspek campak cukup tinggi, yaitu 1.537 kasus. Sementara itu, Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan kasus suspek terendah, hanya 1 kasus sepanjang tahun 2024.
Pentingnya Vaksin Campak dalam Pencegahan Penyakit
Meski vaksin tidak sepenuhnya mencegah penyakit, imunisasi tetap menjadi langkah paling efektif dalam mencegah penyebaran campak. Dengan cakupan yang tidak merata di seluruh Indonesia, diperlukan upaya lebih besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperluas akses imunisasi.
Sebagai warga negara, kita perlu menyadari bahwa vaksin adalah alat penting dalam menjaga kesehatan masyarakat. Dengan partisipasi aktif, kita bisa membantu Indonesia mencapai cakupan imunisasi yang lebih baik dan mengurangi risiko penyakit menular seperti campak.***










