
SOROTJATIM.COM – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan signifikan dalam beberapa hari terakhir, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun tajam hingga kembali ke level 7.500-an. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perubahan outlook dari lembaga pemeringkat global Fitch Ratings. Rupiah juga melemah terhadap dolar AS, mencatat pelemahan sebesar 0,18% pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026), menjadi yang terburuk dalam lebih dari sebulan terakhir.
IHSG Anjlok Akibat Sentimen Negatif
IHSG merosot 362,71 poin atau -4,57% ke level 7.557,06. Sebanyak 54 saham naik, sedangkan 734 saham turun, dan 33 tidak bergerak. Nilai transaksi terbilang ramai, mencapai Rp 29,7 triliun, melibatkan 53,6 miliar saham dalam 3,2 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun merosot menjadi Rp 13.522 triliun. Asing mencatat net sell sebesar Rp 117,9 miliar pada perdagangan kemarin.
Dua emiten Bakrie, yakni Energi Mega Persada (ENRG) dan Bumi Resources (BUMI), menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan. ENRG ditutup naik 0,47%, sedangkan PT Bumi Resources (BUMI) turun 7,14%. Seluruh sektor berada di zona merah dengan bahan baku turun paling dalam, yakni -7,88%.
Perubahan Outlook Fitch Ratings
Fitch Ratings merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negative dari sebelumnya stable, meskipun tetap mempertahankan peringkat utang negara pada level BBB atau masih dalam kategori investment grade. Revisi ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran atas konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan, terutama di tengah sentralisasi pengambilan keputusan.
Target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai berpotensi mendorong kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar. Rencana revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang membuka ruang perubahan batas defisit 3% PDB turut menjadi perhatian. Fitch memperkirakan defisit APBN 2026 berada di kisaran 2,9% PDB.
Rupiah Melemah Akibat Ketegangan Geopolitik
Pelemahan rupiah masih banyak dipengaruhi sentimen eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam dampak dari meluasnya konflik di Timur Tengah.
Wall Street Bangkit Setelah Kenaikan Harga Minyak Mereda
Di pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street akhirnya bangkit pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Saham-saham naik pada Rabu setelah lonjakan harga minyak mulai mereda menyusul perkembangan dalam perang AS-Israel melawan Iran serta meredanya kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 238,14 poin atau 0,49% dan ditutup di 48.739,41. Indeks yang berisi 30 saham tersebut berhasil menghentikan tren penurunan selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,78% dan berakhir di level 6.869,50, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 1,29% dan ditutup pada 22.807,48.
Data Ekonomi Global Meningkatkan Sentimen Investor
Sejumlah rilis data ekonomi yang kuat turut meningkatkan sentimen investor pada Rabu. Pertama, laporan ADP menunjukkan perusahaan sektor swasta menambah lebih banyak lapangan kerja dari perkiraan pada Februari. Selain itu, sektor non-manufaktur AS mencatat pertumbuhan yang lebih baik dari ekspektasi bulan lalu, dengan tekanan inflasi yang mulai mereda.
“Kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja yang melunak, bahkan mungkin memburuk, kini mulai dipertanyakan,” kata kepala strategi pasar Ameriprise, Anthony Saglimbene, kepada CNBC. Reaksi positif terhadap data ekonomi tersebut terjadi bersamaan dengan meredanya reli harga minyak setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa AS akan membuat serangkaian pengumuman untuk mendukung kelancaran aliran minyak melalui Teluk Persia.
Harga minyak Brent dan WTI pada Rabu sempat bergerak ke wilayah negatif untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Keduanya juga ditutup jauh di bawah level tertinggi sesi pada perdagangan Selasa. Meredanya reli minyak juga terjadi setelah Presiden Donald Trump pada Selasa mengatakan bahwa AS akan menyediakan asuransi risiko bagi seluruh perdagangan maritim yang melintasi Teluk Persia guna mendorong kapal tanker kembali melintas di Selat Hormuz.
Lalu lintas tanker melalui selat tersebut sempat terhenti setelah komandan Garda Revolusi Iran mengancam akan membakar kapal yang mencoba melewati jalur itu. “Jika situasi Timur Tengah menjadi lebih mengganggu, Anda akan melihat dampak lanjutan yang lebih besar di pasar global dan harga aset, bahkan mungkin terhadap prospek ekonomi,” kata Saglimbene. Namun ia menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk membuat penilaian tersebut.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap solid. Gubernur Perry Warjiyo menyatakan perubahan outlook tidak mencerminkan pelemahan mendasar pada perekonomian. Menurutnya, pertumbuhan domestik masih terjaga di tengah ketidakpastian global, inflasi termasuk inflasi inti berada dalam kisaran rendah, dan stabilitas nilai tukar terus diperkuat melalui intervensi di pasar NDF luar negeri, transaksi spot, serta DNDF domestik.
BI juga menekankan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap kuat. Likuiditas perbankan dinilai memadai, permodalan bank berada di level tinggi, dan risiko kredit terkendali. Digitalisasi sistem pembayaran yang meluas serta infrastruktur keuangan yang stabil disebut menjadi penopang tambahan bagi aktivitas ekonomi. Sinergi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan terus diperkuat untuk menjaga kepercayaan pasar.
Dari sisi proyeksi, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di rentang 4,9%-5,7% dan meningkat pada 2027, dengan inflasi tetap sesuai sasaran. Ketahanan eksternal dinilai terjaga, tercermin dari Neraca Pembayaran Indonesia yang sehat dan cadangan devisa per Januari 2026 sebesar US$154,6 miliar, setara 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. BI memandang afirmasi rating BBB oleh Fitch menunjukkan rekam jejak stabilitas makroekonomi Indonesia tetap diakui, sementara revisi outlook lebih mencerminkan persepsi risiko kebijakan ke depan.







-cover.jpg?w=300&resize=300,178&ssl=1)



