PARLEMENTARIA.ID – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menegaskan bahwa setiap kesepakatan terkait program nuklir Iran harus sepenuhnya menghilangkan kemampuan Teheran untuk memperkaya uranium. Pernyataan ini disampaikan menjelang putaran kedua pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa.
Sebelumnya, negosiasi awal telah digelar di Oman awal bulan ini. Dorongan diplomatik terbaru muncul setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Serangan tersebut diklaim bertujuan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir—sebuah tudingan yang berulang kali dibantah Iran.
Netanyahu menyampaikan pernyataan kerasnya dalam Konferensi Presiden Organisasi Yahudi Besar Amerika pada Minggu. Ia mengaku skeptis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan. Namun, jika perjanjian itu terwujud, ia menegaskan tiga syarat utama harus dipenuhi.
“Yang pertama, semua material yang diperkaya harus meninggalkan Iran,” tegasnya. “Tidak boleh ada kemampuan pengayaan, bukan sekadar menghentikan prosesnya, tetapi membongkar seluruh peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan mereka memperkaya uranium.”
Selain itu, Netanyahu juga menuntut agar program rudal balistik Iran dimasukkan dalam kesepakatan. Ia mengaku telah menyampaikan tuntutan tersebut langsung kepada Presiden AS, Donald Trump, dalam pertemuan mereka pekan lalu.
Perspektif Trump dan Tekanan Terhadap Iran
Trump sendiri menyatakan belum ada keputusan definitif terkait arah negosiasi, namun ia tetap bersikeras dialog dengan Teheran harus dilanjutkan untuk melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengirim armada militer ke Timur Tengah dan mengancam serangan lanjutan jika Teheran menolak kesepakatan mengenai program nuklir dan rudalnya.
Bahkan, muncul laporan bahwa militer AS telah diperintahkan menyiapkan operasi jangka panjang jika perundingan gagal. Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh bahwa program rudalnya adalah “garis merah” dan tidak dapat dinegosiasikan. Teheran juga menolak tuntutan nol pengayaan uranium dengan alasan program tersebut diperlukan untuk keamanan energi nasional.
Kebijakan Iran dan Peluang Kompromi
Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, dalam wawancara dengan BBC pada Minggu, membuka peluang kompromi. Ia menyebut Iran dapat mempertimbangkan pengenceran uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen, asalkan Washington mencabut sanksi yang telah lama diberlakukan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahan di platform X pada Senin, menyatakan dirinya tiba di Jenewa dengan “ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara.” “Apa yang tidak ada di meja adalah penyerahan di bawah ancaman,” tulisnya, sembari menegaskan bahwa Teheran siap menghadapi konfrontasi militer jika jalur diplomasi runtuh.
Ketegangan yang Mengancam Stabilitas Kawasan
Ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran kini kembali meningkat, sementara dunia menanti hasil perundingan yang dapat menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah.









