PARLEMENTARIA.ID – Kasus keracunan yang menimpa ratusan siswa di wilayah Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menjadi perhatian serius dari berbagai pihak. Kejadian ini terjadi setelah para siswa diduga mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebanyak 152 anak dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, demam, dan diare, sehingga memerlukan penanganan medis.
Letkol Inf Abi Swanjoyo, Komandan Kodim 0815/Mojokerto, menjelaskan bahwa data sementara menunjukkan jumlah korban sekitar 152 orang. Namun, angka tersebut masih dalam proses verifikasi bersama dengan kepolisian dan instansi terkait. “Data awalnya 152, nanti kepastiannya kami cocokkan lagi dengan kepolisian,” ujarnya.
Sebagian besar korban mendapatkan penanganan awal di lokasi sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan. Letkol Abi menyampaikan bahwa sekitar 92 anak dirujuk ke RSUD Prof.dr. Soekandar, sementara sisanya ditangani di beberapa puskesmas dan pondok pesantren. “Yang dari sini sekitar 92, karena kondisinya harus lebih lanjut maka kami kirim, termasuk yang ke RSUD Soekandar,” jelasnya.
Operasional SPPG yang diduga terkait kasus ini juga akan dihentikan sementara. Letkol Abi menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi dan investigasi lebih lanjut. “Untuk yang ini kami setop dulu ya. Kami evaluasi. Kami lihat dulu. Ini kan kami sedang melakukan investigasi,” tegasnya.
Penyelidikan mengarah pada SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo. SPPG ini menyalurkan 2.679 porsi MBG ke 20 sekolah pada Jumat siang. Dari hasil pendataan, 7 sekolah dan 1 pondok pesantren melaporkan kejadian keracunan.
Terkait kemungkinan sanksi, Letkol Abi menegaskan akan ada tindakan tegas jika ditemukan unsur kelalaian atau pidana. “Sanksinya nanti kami lihat. Tentunya kalau memang ada unsur kelalaian, kami sesuaikan. Kalau ada unsur pidana, otomatis harus kami proses dengan tegas sampai ke ranah pidana,” ujarnya.
Dyan Anggrahini Sulistyowati, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Mojokerto, menyatakan seluruh korban sudah ditangani dan dipusatkan di beberapa titik layanan kesehatan. “Untuk penanganan, insyaallah 152 itu sudah kami tangani. Yang pertama, kami memang memusatkan penanganan itu di pondok di sini, di Pondok An-Nur, untuk memudahkan penanganan kami,” jelasnya.
Selain di Pondok An-Nur, pelayanan medis juga dilakukan di sejumlah puskesmas. “Ada juga di Puskesmas Pacet, Puskesmas Gondang, dan Puskesmas Kutorejo. Ada yang sempat di Ponpes Al-Hidayah, tapi akan kami geser ke An-Nur supaya terpusat. Kecuali yang dirujuk karena memang butuh penanganan lebih lanjut di Rumah Sakit Sukandar,” ungkapnya.
Dyan juga menegaskan, seluruh penerima MBG yang menunjukkan gejala keracunan mulai dari mual, muntah, demam langsung dilayani tanpa biaya. Secara medis, gejala yang paling banyak ditemukan dari para korban yakni gangguan pencernaan. “Indikasi medisnya itu mual, muntah, demam, dan mohon maaf, juga diare. Itu kondisi klinis yang umum,” katanya.
Untuk memastikan penyebab keracunan itu, dinkes juga sudah mengambil sampel makanan. Dia menyebut menu MBG yang dikonsumsi saat itu adalah soto ayam. “Sampel makanan dari bank sampel yang ada di SPBG sudah kita ambil tadi pagi. Karena setiap SPBG membagikan makanan itu ada bank sampel yang memang harus diuji,” jelasnya.
Meski demikian, dia mengatakan hasil uji laboratorium belum bisa diumumkan dalam waktu dekat. “Hasil lab baru bisa kita keluarkan paling cepat hari Rabu (14/1/2026). Mohon waktu,” tegasnya.
Rosidian Prasetyo, Kepala Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN) Mojokerto, menegaskan hingga kini pihaknya belum bisa menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut. “Untuk indikasinya sampai saat ini kami masih belum tahu jelas, belum bisa menyimpulkan. Karena penyajiannya itu hari Jumat, sedangkan kejadiannya itu hari Sabtu sekitar jam sembilan pagi. Bahkan ada yang mulai Jumat malam,” katanya.
Dia menambahkan, jarak waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala membuat penyebab keracunan juga belum bisa dipastikan. “Dari jarak waktu itu kita tidak bisa menyimpulkan apakah itu murni dari makanan MBG atau ada tambahan makanan lain. Karena mohon izin, makanan itu kan maksimal dikonsumsi siang hari. Sore sampai malam kan anak-anak masih makan di rumah atau di pondok masing-masing,” ucapnya.
Rosidian menyebut, pihaknya telah melakukan pengecekan awal ke dapur SPBG pada Sabtu siang. Investigasi juga dilakukan pihak kepolisian. Hasilnya, menurut pengecekan pelaksanaan sudah dilakukan sesuai SOP dan juknis yang ditentukan BGN. “Relawan juga melaksanakan SOP-nya dengan baik,” katanya.
Meski demikian, evaluasi menyeluruh tetap akan dilakukan. Kata Rosidian, pihaknya akan menunggu lebih dulu hasil lab dari dinkes dan kepolisian.***











