PARLEMENTARIA.ID – Surabaya, kota yang terkenal dengan kepadatan penduduk dan perkembangan infrastruktur, masih menghadapi tantangan besar dalam mengatasi masalah banjir. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih ada sebanyak 250 titik banjir yang perlu diselesaikan dari total 350 titik awalnya. Meski angka tersebut telah berkurang, penanganan banjir tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah kota.
Kondisi Saat Ini dan Perkembangan
Eri Cahyadi menyatakan bahwa sejak awal masa kepemimpinannya, sebanyak 100 titik banjir telah berhasil ditangani. Namun, ia menekankan bahwa tidak ada titik banjir baru yang muncul. Hal ini menunjukkan bahwa upaya penanganan banjir yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya cukup efektif dalam meminimalkan dampak banjir di kawasan urban.
“Kita kan punya 350 titik banjir, yang sudah bisa kita selesaikan 100 titik banjir. Masih ada 250 titik banjir,” ujar Eri di Balai Kota Surabaya, Jumat (9/1/2026). Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya keras untuk menyelesaikan sisa titik banjir yang tersisa.
Kerja Sama dengan Pemprov dan Pemerintah Pusat
Masalah banjir di Surabaya tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemkot Surabaya, melainkan juga melibatkan bantuan dari Pemprov Jawa Timur dan Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU). Eri menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mempercepat proses penanganan banjir.
Salah satu contohnya adalah pembuatan saluran di Jalan Jemursari, yang sebelumnya sempat menjadi titik banjir. “Kita juga minta bantuan kepada pemerintah provinsi. Untuk membuat saluran. Saluran Jemursari itu yang panjang. Itu kan sudah saluran alam. Kita akan buatkan pelengsengan,” jelas Eri.
Selain itu, ia juga menyampaikan permohonan bantuan kepada pemerintah pusat melalui KemenPU. Salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus adalah Jalan Kalianak dan Jalan Gresik, yang belum memiliki saluran di kedua sisinya.
Fokus pada Titik-Titik Krusial
Tahun ini, fokus penanganan banjir akan diarahkan pada beberapa titik krusial yang sering tergenang air. Beberapa lokasi yang menjadi prioritas antara lain Simokalangan, Simohilir, Simorejo 1A 1B, Margorejo, dan Tanjung Sari. Eri menegaskan bahwa penyelesaian masalah banjir di kawasan-kawasan ini akan menjadi prioritas utama.
“Insya Allah 2026 kita selesaikan di Simokalangan, Simohilir, Simorejo 1A 1B, Margorejo, dan Tanjung Sari. Itu fokus kita tahun ini,” ujar Eri.
Dampak Banjir terhadap Masyarakat
Banjir di Surabaya tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga berdampak pada ekonomi dan kesehatan masyarakat. Banyak warga yang kesulitan dalam beraktivitas akibat genangan air, serta risiko penyakit yang meningkat karena lingkungan yang tidak sehat.
Eri menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk menangani masalah banjir secara bertahap. Ia berharap, dengan kerja sama yang baik antara pemerintah kota, provinsi, dan pusat, Surabaya dapat segera terbebas dari ancaman banjir yang selama ini menghantui warganya.
Upaya Jangka Panjang
Selain penanganan darurat, Eri juga menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur yang lebih tahan terhadap banjir. Ia menyebutkan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk merancang sistem drainase yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil dan rencana jangka panjang yang matang, Eri optimis bahwa Surabaya dapat menjadi kota yang lebih aman dari ancaman banjir. Ia berharap, ke depannya, masyarakat dapat hidup dengan nyaman tanpa khawatir terhadap genangan air yang sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari.***











