PARLEMENTARIA.ID – Ekspor minyak Venezuela berhenti sama sekali karena situasi politik yang semakin memburuk. Ekspor minyak juga terganggu akibat pembatasan sanksi Amerika Serikat (AS) yang diperketat.
Dilansir dari Reuters, Minggu (4/1/2026), sumber-sumber menyebutkan bahwa kapten pelabuhan menolak permohonan izin bagi kapal tanker yang membawa minyak mentah dan bahan bakar untuk berlayar ke luar negeri.
Kondisi ini muncul setelah Amerika Serikat mengumumkan larangan penuh terhadap kapal tanker minyak yang masuk dan keluar perairan Venezuela.
Tindakan ini selaras dengan operasi yang melibatkan pengambilan alih Presiden Nicolas Maduro dan istrinya dari Caracas, saat Washington mengumumkan akan memfasilitasi peralihan politik di negara Amerika Selatan tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa embargo minyak kini berjalan secara penuh. Langkah ini semakin membatasi kegiatan ekspor minyak yang sebelumnya telah menurun drastis akibat sanksi yang diberlakukan.
Data pengawasan menunjukkan beberapa kapal yang baru saja mengangkut minyak atau bahan bakar dengan tujuan ke Amerika Serikat hingga Asia masih terjebak di pelabuhan dan belum berlayar. Kapal-kapal lain yang sedang menunggu muatan justru kembali ke laut tanpa membawa beban apapun.
Berdasarkan data dari TankerTrackers.com, tidak ada kapal tanker yang sedang melakukan pengisian bahan bakar di pelabuhan minyak utama Venezuela di Jose pada akhir pekan.
Penghentian keseluruhan ekspor minyak, termasuk kapal tanker yang disewa oleh PDVSA (perusahaan minyak negara) serta mitra utamanya, Chevron.
Para analis industri memberi peringatan bahwa larangan ekspor total ini dapat mempercepat kebutuhan Venezuela untuk menurunkan produksi di lapangan minyaknya. Hal ini terjadi karena tangki penyimpanan di darat dan kapal yang berfungsi sebagai penyimpanan mengapung telah penuh dalam beberapa minggu terakhir, yang secara teknis mengurangi kemampuan untuk memompa minyak baru.
Jika tren ini terus berlangsung, sektor energiVenezueladiperkirakan akan menghadapi tekanan produksi yang lebih berat pada semester pertama 2026. Terlebih lagi, sektor energi Venezuela telah lama menghadapi masalah investasi yang minim, infrastruktur yang sudah usang, serta berbagai sanksi yang diberlakukan.
Sebelumnya, Amerika Serikat melakukan operasi militer cepat di Venezuela yang berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya.
Menurut laporan Bloomberg, pasukan khusus Amerika Serikat hanya memerlukan waktu kurang dari tiga jam untuk mengakhiri pemerintahan Maduro, yang selama bertahun-tahun bertahan di tengah tekanan dari Washington.
Lebih dari 150 pesawat militer Amerika Serikat dikerahkan setelah sistem pertahanan udara Venezuela mengalami kegagalan. Pasukan Delta Force dari Angkatan Darat AS kemudian diarahkan menuju pangkalan militer tempat Maduro menginap.
Pasukan tersebut menyerbu pintu besi tempat persembunyian dan menangkap Maduro bersama istrinya sebelum keduanya sempat sampai ke ruangan yang aman. Pasangan tersebut kemudian dibawa dengan helikopter ke sebuah kapal perang Amerika Serikat yang sedang menuju pengadilan di New York.***











