PARLEMENTARIA.ID – Pertanian di Jawa Timur menghadapi tantangan akibat cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur mencatat sekitar 3.000 hektare lahan pertanian mengalami puso, yaitu kondisi tanaman yang gagal tumbuh atau mati karena pengaruh lingkungan. Meski demikian, dampak tersebut tidak mengganggu produksi padi tahun 2025 secara keseluruhan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Heru Suseno, menjelaskan bahwa puso terjadi secara tersebar dan sebagian besar terjadi pada Oktober 2025, saat tanaman padi memasuki masa panen. Ia menegaskan bahwa angka 3.000 hektare ini relatif kecil dan tidak berdampak signifikan terhadap produksi nasional.
“Puso memang ada, tetapi tidak banyak. Sekitar 3.000 hektare dan tersebar di Jawa Timur. Itu terjadi Oktober, sehingga tidak mengganggu produksi tahun 2025,” ujar Heru.
Banjir Tidak Seluruhnya Merusak Lahan Padi
Meskipun banjir terjadi dalam beberapa waktu terakhir, tidak semua genangan air berdampak buruk pada lahan padi. Sebagian besar genangan air cepat surut, sehingga tidak merusak tanaman secara signifikan. Heru menjelaskan bahwa hujan deras yang terjadi bisa langsung disusul oleh penurunan air, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman padi.
“Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman,” jelasnya.
Perhatian Serius terhadap Cuaca Ekstrem
Meski demikian, Heru mengakui bahwa cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir tetap menjadi perhatian serius. Pihaknya masih melakukan pendataan lanjutan untuk memastikan luas puso yang terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026, mengingat curah hujan masih tinggi.
“Nanti kami update lagi datanya. Januari ini curah hujan tinggi, jadi kami lihat betul mana yang benar-benar puso dan mana yang tidak,” katanya.
Bantuan untuk Petani yang Terkena Puso
Heru menegaskan bahwa jika ditemukan puso baru akibat cuaca ekstrem, Pemprov Jatim siap memberikan bantuan kepada petani, termasuk penggantian benih dan fasilitasi tanam ulang dengan berkoordinasi bersama Kementerian Pertanian.
“Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali,” tegasnya.
Optimisme Produksi Padi Jatim Tahun 2026
Di sisi lain, Heru optimistis produksi padi Jatim pada 2026 justru berpotensi meningkat. Hal itu didasarkan pada luas tanam Oktober–Desember 2025 yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kalau tidak ada cuaca ekstrem yang merusak tanaman, panen Januari–Maret 2026 diprediksi meningkat. Ini prediksi, bukan perkiraan asal,” pungkasnya.
Dampak Cuaca Ekstrem pada Wilayah Lain
Selain puso pada lahan padi, cuaca ekstrem juga berdampak pada daerah lain di Jawa Timur. Beberapa wilayah mengalami banjir dan angin puting beliung yang merusak rumah warga. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Jatim mencatat sejumlah titik banjir masih terjadi di beberapa daerah, meskipun intensitasnya mulai berkurang.
Perlu Kesiapan Menghadapi Cuaca Ekstrem
Dalam konteks ini, penting bagi petani dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca. Dinas Pertanian dan ketahanan pangan Jatim terus memantau situasi dan memberikan informasi serta bantuan yang diperlukan.***











