Banjir Bengawan Solo Mengganggu Kegiatan Sekolah di Lamongan

DAERAH32 Dilihat

PARLEMENTARIA.ID – Banjir yang meluap dari Sungai Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terus memperparah situasi kemanusiaan dan infrastruktur. Peristiwa ini dipengaruhi oleh intensitas hujan tinggi dan kondisi air laut pasang yang memicu naiknya permukaan air sungai. Dampak banjir tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, tetapi juga berdampak langsung pada sistem pendidikan setempat.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Pusdalops BPBD Kabupaten Lamongan, sebanyak 11 lembaga pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, terendam air. Hal ini memaksa sekolah-sekolah tersebut untuk mengambil kebijakan libur sementara atau beralih ke metode pembelajaran jarak jauh (daring).

“Kami akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan Lamongan, menyiapkan fasilitas perahu untuk digunakan siswa pulang pergi sekolah,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, Moch. Na’im, dalam pernyataannya.

Kondisi Sekolah Terdampak Semakin Parah

Di lapangan, kondisi sekolah yang terkena dampak banjir semakin memprihatinkan. Salah satu kepala sekolah, Mahfudl, menjelaskan bahwa banjir di SDN Turi terus meningkat. “Kini, hampir seluruh ruangan kelas terendam air sehingga sekolah memilih untuk pembelajaran di rumah melalui daring,” katanya.

Ia menekankan bahwa keputusan ini diambil demi keselamatan siswa. “Ini dilakukan demi keselamatan para siswa, karena air banjir tinggi begitu juga kondisinya licin, berbahaya buat anak-anak,” jelas Mahfudl.

Adaptasi Pembelajaran di Tengah Bencana

Meski sebagian besar sekolah beralih ke pembelajaran daring, beberapa institusi masih mempertahankan proses belajar mengajar secara tatap muka. Siswa yang rumahnya tidak terlalu terendam air atau memiliki akses alternatif, terpaksa menerjang banjir atau bahkan menggunakan perahu untuk menuju sekolah.

Situasi ini menunjukkan kompleksitas dampak banjir yang tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengancam kelancaran proses pendidikan di wilayah terdampak. Selain itu, kebijakan ini juga mencerminkan upaya pihak sekolah dan pemerintah setempat dalam menjaga kontinuitas pendidikan meskipun dalam kondisi darurat.

Upaya Penanggulangan dan Persiapan Jangka Panjang

Dalam rangka menghadapi situasi ini, pihak BPBD dan dinas pendidikan sedang berupaya keras untuk memastikan kelancaran transportasi siswa dan pengadaan fasilitas darurat. Selain itu, diperlukan koordinasi yang lebih baik antara instansi pemerintah, komunitas lokal, dan pelaku pendidikan untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *