Harga Kopi Naik di Solo, Didorong Munculnya 174 Gerai Kafe Baru

DAERAH22 Dilihat

PARLEMENTARIA.ID – Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, memberikan perhatian khusus terhadap kenaikan harga biji kopi yang baru-baru ini terjadi di Kota Solo.

Ia menganggap, kejadian ini tidak terlepas dari pesatnya perkembangan kedai kopi yang tumbuh subur di berbagai penjuru kota.

Respati menyampaikan bahwa secara umum kondisi ketahanan pangan untuk kebutuhan pokok masih tergolong aman.

Upaya pengaturan harga dengan melalui kegiatan pasar murah dianggap cukup efektif dalam menjaga kestabilan.

Namun, terdapat beberapa komoditas yang tetap perlu dipantau karena berpotensi menimbulkan tekanan terhadap inflasi wilayah.

“Yang menjadi fokus kita adalah bawang merah, bawang putih, dan cabai. Tiga komoditas ini yang paling utama karena menjadi penyebab inflasi. Selain itu, perkembangan kafe juga berkontribusi terhadap inflasi dalam perekonomian kita,” kata Respati Ardi saat diwawancarai, Jumat (2/1/2025).

Kedai Kopi Terus Bertambah

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo, tercatat sebanyak 109 unit kedai kopi pada tahun 2023.

Angka tersebut terus meningkat seiring naiknya antusiasme masyarakat terhadap budaya minum kopi.

Menginjak tahun 2025, perkembangan kedai kopi semakin terasa.

Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, terdapat 23 warung kopi yang beroperasi, belum termasuk area lain di Kota Solo.

“Secara keseluruhan terdapat 174 kafe baru, dan rata-rata usianya masih cukup muda,” katanya.

Respati menganggap, semakin banyaknya kedai kopi tidak dapat dipisahkan dari perubahan pola hidup masyarakat, baik warga setempat maupun pendatang.

Tren berkumpul di kafe turut meningkatkan permintaan terhadap biji kopi, yang akhirnya memengaruhi harga.

“Mungkin ini terkait dengan tren. Pola konsumsi yang terlalu boros juga tidak bagus. Harga biji kopi saat ini cukup mahal. Saya menerima banyak masukan karena permintaannya tinggi, sehingga muncul harga-harga yang sedikit tidak wajar,” katanya.

Ia berharap, peningkatan aktivitas ekonomi di sektor kafe tetap diimbangi dengan pengawasan harga agar tidak menyebabkan tekanan inflasi yang berlebihan di Kota Solo.

Kolaborasi dengan Wilayah Penghasil Kopi

Pemerintah Kota Surakarta sedang mempertimbangkan kolaborasi dengan daerah penghasil kopi, seperti Kabupaten Temanggung, guna memastikan kelancaran harga biji kopi.

“Agar harganya tetap stabil dan tidak saling ‘membunuh’. Jika satu sektor mengalami peningkatan yang terlalu besar pasti tidak sehat. Di sini pemerintah perlu hadir sebagai pihak yang menengahi,” katanya.

Selain masalah harga, Respati juga mengungkapkan dampak lain dari maraknya kedai kopi, yakni keterbatasan ruang parkir.

“Pengaturan parkir juga sedang kita susun. Tahun ini kita menerapkan konsep park and ride. Nantinya, area-area parkir akan kita kolaborasikan dengan pihak swasta yang memiliki lahan kosong yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat parkir,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *