Ferdinand Dumais, Anggota DPRD Manado yang Berkomitmen Menuntaskan Kasus Kematian Evia

Ferdinand Dumais, Anggota DPRD yang Berkomitmen Mengawal Kasus Kematian Evia Mangolo

Ferdinand Dumais kini menjadi sorotan setelah menyatakan komitmennya untuk mengawal penuntasan kasus kematian Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA) yang meninggal secara tak wajar di tempat kosnya di Tomohon, Sulawesi Utara. Sebagai anggota DPRD Kota Manado dan pemerhati masalah sosial serta hak asasi manusia, ia menunjukkan kepedulian terhadap kasus ini.

Profil Singkat Ferdinand Dumais

Ferdinand Djeki Dumais, yang akrab dipanggil Onong, adalah seorang pengusaha asal Tomohon. Ia juga merupakan kader Partai Gerindra yang masuk dalam daftar calon legislatif (caleg) untuk daerah pemilihan (dapil) Kota Manado 3 pada Pemilu 2024. Dalam perjalanan karier politiknya, ia pernah menjadi anggota DPRD Manado setelah menggantikan Indra Liempepas, yang terbukti bersalah dalam pelanggaran pemilu.

Selain itu, Onong pernah menjadi pengurus Kawanua Katolik dan pernah mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Tomohon dapil Tomohon 2, Tomohon Utara pada tahun 2019. Saat ini, ia tinggal di Manado.

Komitmen Mengawal Kasus Evia

Kasus kematian Evia, yang masih memicu spekulasi dan kekhawatiran masyarakat, kini mendapat perhatian serius dari Ferdinand Dumais. Ia menyatakan akan terus mengawal penuntasan kasus tersebut dalam koridor penegakkan hukum agar keadilan bisa ditegakkan.

“Saya akan kawal dalam koridor penegakkan hukum untuk memberi keadilan kepada korban,” ujarnya pada Minggu (25/1/2026). Menurutnya, ada hal-hal tertentu yang belum terungkap dalam kasus ini, sehingga perlu adanya pengawasan lebih lanjut agar kasus ini bisa tuntas.

Ferdinand juga mengimbau seluruh masyarakat untuk ikut mengawal kasus ini agar aparat kepolisian dapat menuntaskan secara adil. Ia berencana membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap misteri di balik kematian Evia.

Alasan Terpanggil untuk Berjuang

Ferdinand mengaku terpanggil karena kasus ini mengusik nuraninya. “Dari ibunya saya mengetahui bagaimana kesedihan mereka, ini masalah dignity, seorang siswi yang bertekad untuk bersekolah demi membanggakan orang tuanya yang susah, dan semua berakhir seperti ini,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kasus ini bukan hanya tentang keadilan bagi keluarga Evia, tetapi juga untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

Tanggapan Keluarga Evia

Alfrita Lontolawa, ibunda Evia, dalam sebuah tulisan di media sosial, membantah keterangan dari pihak kepolisian dalam konferensi pers beberapa waktu lalu. Menurut dia, hubungan antara Evia dan keluarganya baik-baik saja, dengan komunikasi yang penuh kasih sayang.

“Sebagai orang tua, kami selalu berkomunikasi dengan anak kami dengan kata ‘halo kuko polo sayang’, itu nama panggilan sayang untuk almarhum Kuko Evia,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa Evia selalu menjalani studi dengan baik, dengan nilai yang bagus di setiap semester. Bahkan, Evia telah menyelesaikan KKN dan menyebutnya sebagai hadiah Natal untuk ibunya.

Alfrita juga membantah klaim bahwa Evia mengalami depresi akibat studi. Menurutnya, Evia rajin berdoa, memimpin ibadah Rosario, dan sering berkunjung ke gereja. Ia percaya bahwa Tuhan adalah Hakim yang Adil.

Kesimpulan

Ferdinand Dumais, dengan latar belakangnya sebagai anggota DPRD dan aktivis sosial, menunjukkan komitmen kuat untuk mengawal kasus kematian Evia. Tidak hanya melalui upaya hukum, ia juga mengajak masyarakat untuk turut serta dalam proses penuntasan kasus ini. Sementara itu, keluarga Evia terus berjuang untuk mendapatkan keadilan dan memastikan bahwa kasus ini tidak terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *