PARLEMENTARIA.ID – Washington akhirnya terkejut juga — bukan karena ledakan, melainkan karena suara yang jauh lebih lembut namun mengganggu: derit tali kapal Rusia yang mengikat perlahan di pelabuhan Karibia. Setelah serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penculikan presidennya, tampaknya Kremli bertindak cepat dan diam. Dan, ini yang paling menyakitkan bagi psikologi imperium: sah.
Pesawat militer Rusia mendarat di bandara Venezuela bukan sebagai pihak yang menyusup, tetapi sebagai tamu yang diundang. Kapal perang Rusia berlabuh bukan hanya untuk menampilkan bendera pada akhir pekan, melainkan untuk operasi berkala. Para penasihat militer Rusia tidak hanya datang sekadar memberi salam, tetapi tinggal, mengajar, memperbaiki, dan mengintegrasikan sistem komando.
Pada titik ini, Washington kaget: sisi belakangnya ternyata sudah memiliki pagar yang baru, dan kuncinya tidak ada di saku Amerika.
Selama hampir dua ratus tahun, Amerika Serikat merasa aman di bawah keyakinan bahwa wilayah Barat adalah wilayah pribadinya —sebuah batas psikologis dan strategis yang tidak perlu dipertahankan terus-menerus karena dianggap alami. Doktrin Monroe, yang muncul pada abad ke-19, bukan hanya kebijakan luar negeri; ia berfungsi sebagai mantra untuk mengusir “kekuatan besar” asing.
Doktrin Monroe, yang dikeluarkan pada tahun 1823 oleh Presiden James Monroe, sebenarnya merupakan pernyataan sederhana yang kemudian berkembang menjadi dasar psikologis dominasi Amerika Serikat di wilayah Amerika Barat. Intinya bukan hanya “Eropa jangan campur”, tetapi juga klaim tersirat bahwa seluruh Amerika Latin adalah wilayah strategis khusus bagi Washington.
Sejak saat itu, wilayah ini tidak lagi dianggap sebagai sekumpulan negara yang memiliki kedaulatan, tetapi sebagai “lingkungan keamanan” Amerika sendiri —sebuah area yang, jika dikunjungi oleh pihak lain, dianggap sebagai ancaman terhadap rumah utama.
Dalam sejarah, doktrin ini tidak pernah berhenti sebagai pernyataan normatif. Ia berkembang menjadi kebiasaan politik: intervensi, kudeta, sanksi, tekanan ekonomi, hingga operasi militer yang terbuka — mulai dari Karibia hingga Amerika Tengah, dari Kuba hingga Panama, dari Chili hingga Nikaragua.
Amerika tetap mempertahankan satu keyakinan: tidak boleh ada kekuatan besar non-Amerika yang memiliki basis militer atau pengaruh strategis yang tetap di kawasan ini. Ketika Uni Soviet mengirimkan rudal ke Kuba pada tahun 1962, dunia hampir berada di ambang perang bukan karena Kuba, melainkan karena Washington menganggapnya sebagai pelanggaran langsung terhadap wilayah suci Doktrin Monroe.
Dalam konteks ini, Venezuela kini menjadi keanehan yang memalukan bagi Washington. Sebab, Rusia tidak datang sebagai tamu sementara, tetapi sebagai mitra militer yang mendalam: melatih perwira, merawat sistem senjata, dan terlibat dalam rantai komando. Sementara itu, Tiongkok datang bukan dengan kapal perang, melainkan melalui kredit, infrastruktur, pembelian minyak, serta jaringan ekonomi yang membuat Caracas tetap bertahan meskipun dihukum.
Venezuela tidak hanya “ramah” terhadap dua kekuatan besar ini; ia bergantung pada mekanisme bertahan hidupnya kepada keduanya. Dalam logika Monroe yang klasik, hal ini bukan sekadar penyimpangan. Ini adalah pelanggaran yang jelas.
Namun ironi geopolitik abad ke-21 adalah sebagai berikut: Doktrin Monroe masih dianggap penting secara retoris, tetapi tidak lagi dapat diterapkan secara nyata. Mengusir Rusia berarti menghadapi konflik langsung dengan kekuatan nuklir; memaksa China berarti bersaing dengan mesin ekonomi global.
Sanksi yang dulu menghancurkan kini hanya menyakiti jaringan Barat, sementara Venezuela telah menciptakan jalur kehidupan alternatif. Amerika tetap paling kuat, namun kekuatannya tidak lagi secara otomatis berarti kontrol. Ia seperti polisi besar yang tiba di lokasi kejadian hanya untuk menemukan bahwa pintu sudah diganti gembok, dan kunci cadangan tidak lagi berlaku.
Rusia dan Tiongkok, dengan pendekatan yang berbeda, justru menggoyang kebijakan Monroe bukan melalui pernyataan perang, tetapi melalui fakta administratif. Rusia meningkatkan “harga” intervensi Amerika dengan kehadiran militer yang membuat setiap opsi keras menjadi berisiko global. Tiongkok mengurangi efektivitas isolasi ekonomi dengan menyediakan pasar, pendanaan, dan infrastruktur.
Jika Rusia mengganggu Monroe pada tingkat keamanan, Tiongkok menggerogoti sistem ekonomi di sana. Keduanya tidak secara terbuka menentang doktrin tersebut; mereka hanya hidup di dalam celah-celahnya hingga doktrin itu kehilangan maknanya.
Oleh karena itu, dalam drama Venezuela saat ini, Doktrin Monroe tidak secara resmi mati, tetapi juga tidak lagi berfungsi secara operasional. Ia berubah dari prinsip geopolitik menjadi benda sejarah—masih disebut-sebut, masih dipercaya secara emosional, tetapi tidak lagi mampu mengatur kenyataan.
Amerika Serikat masih memiliki pengaruh di kawasan, tetapi kepastian bahwa pengaruh tersebut bersifat otomatis dan tidak tergantikan telah berkurang. Venezuela menunjukkan bahwa bahkan posisi yang dianggap remeh bisa menjadi titik penting global ketika tekanan menggantikan komunikasi, serta kekuasaan dianggap abadi.
Sejarah memiliki selera humor yang dingin: mantra yang terlalu lama diucapkan tanpa peninjauan akan kehilangan dayanya. Ketika Rusia—negara yang digambarkan sekarat akibat sanksi—beroperasi bebas di Venezuela dengan persetujuan negara berdaulat Amerika Latin, krisis sesungguhnya bukanlah keberanian Moskow, melainkan ketidakmampuan Washington untuk menghentikannya.
Ironisnya, pintu itu tidak hanya dibuka oleh intrik Rusia, tetapi juga oleh kebiasaan lama Amerika sendiri: mengganti diplomasi dengan sanksi. Berpuluh tahun tekanan, sanksi, dan harapan pergantian pemerintah tidak berhasil menjatuhkan Caracas; justru mendorong Venezuela mencari dukungan yang lain.
Negara yang dijegal tetap beroperasi —ia menyesuaikan diri. Ketika akses terhadap teknologi Barat terhenti, suku cadang Rusia masuk. Ketika dolar dibekukan, saluran pembayaran alternatif dibuka. Ketika legitimasi dipangkas, perlindungan militer dicari.
Hasilnya bukan sekadar aliansi sementara, melainkan ketergantungan yang mendalam. Pesawat Venezuela tidak bisa terbang tanpa suku cadang dari Rusia, pertahanan udara tidak akan efektif tanpa teknisi Rusia, dan kemampuan mencegah intervensi hanya mungkin karena kehadiran Rusia yang membuat biaya tindakan Washington meningkat.
Di sinilah kesalahan paling mahal terjadi. Amerika mengira tekanan otomatis akan menghasilkan ketaatan. Sejarah menunjukkan kebalikannya: tekanan sering kali memicu perubahan arah. Ketika semua jalan tertutup, pilihan alternatif menjadi tetap. Maka Rusia tidak perlu “menguasai” Venezuela; cukup menjadi tidak tergantikan —secara perlahan, tepat, dan hemat.
Di sisi lain, Tiongkok memainkan peran pendukung: jika Rusia menyediakan perlindungan militer, Beijing menyediakan oksigen ekonomi. Senjata dan pertahanan dari Moskow; pendanaan, infrastruktur, serta penyerapan minyak dari Beijing. Dua aspek ini membentuk sistem yang tahan terhadap isolasi Barat.
Angka-angka menunjukkan paradoksnya. Ekonomi Venezuela turun sekitar 70–75 persen sejak 2013; inflasi yang sangat tinggi pernah mencapai jutaan persen; enam hingga tujuh juta penduduknya pindah. Produksi minyak berkurang dari lebih tiga juta barel per hari menjadi kira-kira tiga perempat juta.
Namun, negara tersebut tidak mengalami kehancuran total. Mengapa? Karena ekspor minyak masih terus berjalan melalui jalur alternatif—logistik dan perantara dari Rusia, sistem yang tidak menggunakan dolar—yang cukup untuk mendanai mesin kekuasaan.
Angkatan bersenjata Venezuela, yang telah membeli puluhan miliar dolar alat militer Rusia sejak awal abad ini, mengoperasikan pesawat tempur, helikopter, serta sistem pertahanan udara modern. Bahkan pesawat pengebom strategis Rusia dengan jangkauan jauh pernah melakukan latihan di pangkalan Venezuela—situasi yang dahulu hanya bisa ditemui dalam album kenangan Perang Dingin.
Dari perspektif Caracas, semuanya menjadi bukti: perlindungan tersebut nyata. Dari sudut pandang Washington, pilihan semakin terbatas. Peningkatan militer berisiko memicu konflik langsung dengan Rusia; peningkatan ekonomi menghasilkan manfaat yang semakin sedikit; isolasi diplomatik tidak berhasil karena Venezuela kini tidak lagi sendirian.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Inilah situasi keterjebakan strategis: kekuatan besar masih ada, namun pilihan yang tersedia semakin terbatas. Doktrin Monroe tidak dihadapi dengan ancaman senjata, melainkan dikikis oleh kontrak perawatan, jadwal latihan, hak berlabuh, dan pengiriman minyak — fakta-fakta kecil yang, ketika menumpuk, tidak bisa dihilangkan hanya dengan pidato. 2. Ini adalah keterjebakan strategis: kekuatan utama masih ada, tetapi opsi yang dapat digunakan semakin sedikit. Doktrin Monroe tidak ditantang dengan tembakan, melainkan dimakan oleh kontrak perawatan, jadwal pelatihan, hak berlabuh, dan pengiriman minyak — fakta-fakta kecil yang, jika terkumpul, tidak bisa dihapus hanya dengan pidato. 3. Berikut ini adalah situasi keterjebakan strategis: kekuatan besar masih ada, namun pilihan yang mungkin semakin berkurang. Doktrin Monroe tidak diuji dengan serangan senjata, melainkan dikikis oleh kontrak perawatan, jadwal pelatihan, hak berlabuh, dan pengiriman minyak — fakta-fakta kecil yang, ketika berkumpul, tidak bisa dihilangkan hanya dengan pidato. 4. Inilah keterjebakan strategis: meskipun kekuatan besar masih ada, opsi yang bisa digunakan semakin terbatas. Doktrin Monroe tidak dihadapi dengan tembakan, melainkan secara perlahan dihancurkan oleh kontrak perawatan, jadwal pelatihan, hak berlabuh, dan pengiriman minyak — fakta-fakta kecil yang, ketika menumpuk, tidak bisa dihilangkan hanya dengan pidato. 5. Ini merupakan situasi keterjebakan strategis: kekuatan besar masih ada, tetapi pilihan yang tersedia semakin berkurang. Doktrin Monroe tidak ditantang dengan senjata, melainkan secara perlahan diperlemah oleh kontrak perawatan, jadwal pelatihan, hak berlabuh, dan pengiriman minyak — fakta-fakta kecil yang, bila terakumulasi, tidak bisa dihapus hanya dengan pidato.
Dampaknya menyebar. Di dalam negeri, pemerintah tetap bertahan, masyarakat tetap rentan: negara berjalan, warga terus menghadapi kesulitan. Di kawasan, Venezuela berubah dari cerita peringatan menjadi bukti dari konsep tersebut: tekanan Amerika dapat diatasi jika ada alternatif yang tersedia. Senjata Rusia tanpa syarat politik; pendanaan Tiongkok tanpa pembicaraan tentang tata kelola —pilihan-pilihan ini sekarang sedang dipertimbangkan.
Saat asumsi lama runtuh, dampak mulai bisa dinegosiasikan, dan persaingan memasuki wilayah yang sebelumnya sepi. Secara global, inilah wujud multipolaritas yang sesungguhnya: bukan pernyataan besar, melainkan jaringan paralel yang mengurangi kekuatan dominan.
Apakah ini akhir kekuasaan Amerika? Tidak. Namun ini adalah akhir dari masa ketika kekuasaan tersebut dianggap pasti. Kekaisaran jarang runtuh karena serangan langsung; ia mulai goyah ketika mengira dirinya mampu mengendalikan. Ternyata, sejarah tidak selalu menyampaikan pesannya dengan keras. Terkadang, ia datang dengan kapal, berlabuh tenang, lalu tinggal.***






