PARLEMENTARIA.ID – Pegiat seni di Yogyakarta kembali menunjukkan kepedulian mereka terhadap isu demokrasi melalui aksi teatrikal yang digelar pada Jumat, 9 Januari 2026. Dengan mengenakan pakaian pentas tradisional, kelompok Masyarakat Seni Tradisi atau Matra Yogyakarta melakukan aksi di depan Gedung Agung Yogyakarta. Aksi ini bertujuan untuk menyampaikan penolakan terhadap rencana pengembalian pemilihan kepala daerah melalui DPRD.
Aksi tersebut berlangsung di jalan utama kota Yogyakarta, tepatnya di Margo Mulyo. Para seniman memperagakan adegan punokawan, yaitu tokoh-tokoh seperti Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong. Representasi ini menjadi simbol dari rakyat kecil yang selalu berusaha mengingatkan para pemimpin akan tanggung jawab dan nurani mereka.
Selain itu, dalam aksi ini juga ditampilkan sosok genderuwo politik sebagai simbol kekuatan yang mencoba mengambil alih hak suara rakyat. Penampilan ini menunjukkan bahwa para seniman merasa ada ancaman terhadap proses demokrasi yang seharusnya dilakukan secara langsung dan partisipatif.
Pendekatan Budaya untuk Mengingatkan Pemimpin
Koordinator aksi, Agus Beca, menjelaskan bahwa aksi ini sengaja dilakukan dengan pendekatan budaya agar pesannya lebih efektif dan mudah dipahami. Ia berharap dengan cara ini, para pemimpin tidak hanya memaksakan kehendak mereka, tetapi juga dapat menghargai suara rakyat.
Agus menambahkan bahwa Yogyakarta harus tetap menjadi kota yang menjaga iklim demokrasi yang sehat. “Kita ingin mengingatkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk memilih pemimpin mereka, bukan hanya lewat DPRD,” ujarnya.
Konteks Pemilihan Kepala Daerah
Isu pemilihan kepala daerah melalui DPRD telah menjadi topik perdebatan di kalangan masyarakat dan aktivis. Beberapa pihak khawatir bahwa metode ini dapat mengurangi partisipasi rakyat dalam proses demokrasi. Dalam konteks ini, aksi teatrikal yang dilakukan oleh seniman Yogyakarta menjadi bentuk protes terhadap kebijakan yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip demokrasi.
Selain itu, aksi ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap sistem pemilihan langsung yang lebih transparan dan akuntabel. Para seniman percaya bahwa melalui pemilihan langsung, rakyat dapat lebih aktif dalam menentukan arah pemerintahan daerah.
Peran Seni dalam Perubahan Sosial
Aksi teatrikal ini menunjukkan peran seni sebagai alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan sosial dan politik. Dengan menggunakan elemen budaya dan tradisi, para seniman mampu menyampaikan pesan penting kepada masyarakat luas tanpa terkesan konfrontatif.
Banyak yang melihat aksi ini sebagai contoh bagaimana seni dapat digunakan sebagai alat perubahan. Melalui pertunjukan yang kaya akan makna, para seniman mampu membangkitkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya demokrasi dan partisipasi aktif dalam pemerintahan.
Tantangan dan Harapan
Meski aksi ini mendapat apresiasi dari sebagian masyarakat, tantangan tetap ada. Terlebih dalam situasi di mana kebijakan politik sering kali diambil tanpa mempertimbangkan suara rakyat. Namun, para seniman tetap optimis bahwa dengan terus mengedepankan nilai-nilai demokrasi, masyarakat akan semakin sadar akan hak-hak mereka.
Mereka berharap aksi ini menjadi awal dari perubahan yang lebih besar. “Kita harus terus berjuang untuk memastikan bahwa setiap suara rakyat dihargai,” tambah Agus.***






