PARLEMENTARIA.ID – Jaringan Damai Papua (JDP) pada awal tahun 2026 ini mengajak semua pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata yang berlangsung lebih dari 50 tahun di Tanah Papua untuk memulai langkah dialog.
Pernyataan ini disampaikan kepada Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming serta kepada Pemimpin Gerakan Persatuan untuk West Papua (ULMWP) dan Pemimpin Tertinggi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) oleh Juru Bicara JDP, Yan Cristian Warinussy, pada Jumat 2 Januari 2026.
“Sebagai Juru Bicara (Jubir JDP), saya yakin bahwa hanya melalui dialog semua konflik yang berkaitan dengan kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan politik dapat dibahas serta mencapai solusi yang disepakati secara damai,” ujar Warinussy.
Pernyataan Warinussy, JDP berharap ajakan perdamaian ini mendapatkan tanggapan positif dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Selain itu, juga diharapkan respon dari pimpinan Gereja Katolik di Vatikan, Roma-Italia, maupun Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Termasuk juga Gereja Katolik di sekitar 5 (lima) keuskupan di Tanah Papua serta Gereja Kristen Injili di Tanah Papua.
“Perdamaian perlu segera dimulai di Tanah Papua, karena penduduk asli Papua telah menjadi korban dari konflik bersenjata yang berakar pada isu ekonomi dan politik sejak tahun 1963,” katanya.
Warinussy juga menunjukkan bukti bagaimana akibat dari konflik bersenjata membuat ribuan warga tidak bisa merayakan Natal dan Tahun Baru 2026 di kampung halaman mereka.
“Sebagai bukti, dalam perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, banyak warga masyarakat Papua Asli yang tidak berada di kampung halamannya, melainkan berada di tengah hutan tempat pengungsian yang secara hukum jelas melanggar Amanat UUD 1945, Undang Undang RI Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, serta Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik serta Konvensi Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya,” tutup salah satu advokat senior Papua. ***







