PARLEMENTARIA.ID – Anggota Komisi V DPR RI, Irine Roba Putri, menyampaikan perhatiannya terhadap isu kualitas industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, kualitas air minum kemasan saat ini menunjukkan penurunan yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk alur distribusi yang panjang dan penggunaan galon guna ulang yang tidak terkontrol.
Irine menjelaskan bahwa kondisi tersebut diperparah oleh belum optimalnya peran pemerintah dalam menyediakan air layak minum bagi masyarakat. Ia menilai ironis bahwa Indonesia pernah menjadi tuan rumah World Water Forum dua tahun lalu, namun hingga kini masih kesulitan dalam tata kelola air yang baik.
“Menjadi ironis menurut saya karena Indonesia pernah menjadi tuan rumah World Water Forum dua tahun yang lalu. Kenapa dua tahun setelah penyelenggaraan, Indonesia masih belum bisa mandiri dalam tata kelola air yang baik,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (13/2).
Legislator Fraksi PDIP ini menilai bahwa tingginya ketergantungan masyarakat terhadap air minum kemasan terjadi karena pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk rumah tangga. Ia bertanya-tanya mengapa masyarakat harus membeli air kemasan jika air dari sumber lain tidak tersedia atau tidak layak konsumsi.
“Kenapa orang harus beli air kemasan? Kenapa orang harus beli air? Karena pemerintah belum bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat Indonesia,” kata Irine.
Irine menegaskan bahwa masyarakat pada dasarnya akan memilih menggunakan air minum yang disediakan pemerintah apabila kualitasnya terjamin dan harganya terjangkau. Ia menyebut, harga air minum dalam kemasan bisa mencapai 600 kali lipat dibandingkan harga air PDAM per liter.
“Perlu diketahui juga bahwa harga air dalam kemasan itu, harga per liternya 600 kali lipat dari harga air PDAM,” tegasnya.
Lebih lanjut, Irine mengingatkan bahwa persoalan air bukanlah isu sepele, melainkan menyangkut hak dasar warga negara. Ia menekankan bahwa air merupakan elemen penting dalam kehidupan manusia.
“Bicara soal air adalah bicara tentang kehidupan. Jadi isu ini jangan dianggap sepele karena ini benar-benar merupakan hak dasar warga negara untuk bisa mendapatkan air yang baik,” pungkasnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Air Minum dalam Kemasan
Beberapa faktor utama yang memengaruhi kualitas air minum dalam kemasan antara lain:
- Alur distribusi yang panjang: Proses distribusi yang tidak efisien dapat menyebabkan kontaminasi dan penurunan kualitas air selama transportasi.
- Penggunaan galon guna ulang: Penggunaan galon yang tidak terkontrol berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi dan penurunan kualitas air.
- Kurangnya pengawasan pemerintah: Peran pemerintah dalam memastikan ketersediaan air layak minum masih dinilai kurang optimal.
- Harga yang tinggi: Harga air dalam kemasan yang jauh lebih mahal dibandingkan air PDAM membuat masyarakat terpaksa membeli air kemasan.
Solusi yang Diperlukan
Untuk mengatasi masalah ini, Irine menyarankan beberapa langkah yang perlu dilakukan, seperti:
- Meningkatkan pengawasan terhadap industri AMDK: Pemerintah perlu memperketat regulasi dan inspeksi terhadap produsen air minum dalam kemasan.
- Memperbaiki sistem distribusi air: Memastikan alur distribusi yang efisien dan aman agar kualitas air tetap terjaga.
- Meningkatkan akses air bersih: Pemerintah harus fokus pada pengembangan infrastruktur air bersih agar masyarakat tidak tergantung pada air kemasan.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat: Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya air bersih dan cara memilih air kemasan yang aman.
Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan kualitas air minum dalam kemasan dapat ditingkatkan, serta masyarakat Indonesia dapat memiliki akses yang lebih baik terhadap air layak minum.






