Kabut Asap Mengganggu Malam, DPRD Kotim Dorong Peran Relawan Karhutla

Kabut Asap Mulai Mengganggu, DPRD Kotim Minta Konsolidasi Relawan

PARLEMENTARIA.ID – Kabut asap tipis mulai kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Fenomena ini tidak hanya terlihat pada siang hari, tetapi juga mulai terasa pada malam hari, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kesehatan. Hal ini mendapat perhatian serius dari Wakil Ketua Komisi III DPRD Kotim, Riskon Fabiansyah.

Menurut Riskon, kabut asap sudah mulai turun pada jam-jam tertentu, terutama pada malam hari setelah pukul 10. “Beberapa hari terakhir, terutama pada malam hari di atas jam 10, kabut asap sudah mulai terasa dan ini mulai mengganggu pernapasan masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai munculnya asap di awal tahun menjadi sinyal serius yang harus diantisipasi bersama, terlebih di tengah kondisi curah hujan yang kian berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Riskon juga menyinggung langkah pemerintah daerah yang telah kembali mengaktifkan posko siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran yang meningkat.

“Dengan diaktifkannya kembali posko siaga karhutla, saya berharap penanganan di lapangan bisa lebih cepat dan terkoordinasi,” katanya.

Perda tentang Penanggulangan Karhutla

Riskon juga menyoroti bahwa Kabupaten Kotawaringin Timur sejatinya telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, yang mengatur berbagai aspek pencegahan hingga penanganan karhutla. Di dalam perda tersebut sudah jelas disebutkan keterlibatan relawan peduli api dalam penanggulangan karhutla.

“Relawan ini ujung tombak di lapangan. Kalau mereka terlibat aktif dan terkoordinasi, kebakaran bisa lebih cepat ditekan,” jelasnya.

Ia mendorong adanya konsolidasi yang lebih intensif terhadap relawan, mulai dari tingkat desa, kelurahan, hingga kecamatan, agar mereka dapat berperan aktif di posko-posko siaga karhutla. Riskon berharap, dengan sinergi antara pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat, kejadian karhutla di Kotim pada 2026 dapat diminimalkan.

“Tujuannya satu, agar kebakaran hutan dan lahan tahun ini bisa kita tekan semaksimal mungkin,” katanya.

Imbauan untuk Masyarakat

Selain itu, ia juga menyampaikan imbauan langsung kepada masyarakat, khususnya yang berencana membuka lahan di tengah kondisi cuaca yang semakin kering. “Saya mengimbau masyarakat agar bijak dalam membuka lahan dan tidak menggunakan cara membakar,” tegasnya.

Menurut Riskon, pembukaan lahan dengan cara membakar tidak hanya berisiko memicu kebakaran, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan dan kenyamanan warga sekitar. “Kalau terjadi kebakaran, yang terganggu bukan hanya pemilik lahan, tapi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Ia berharap kesadaran kolektif masyarakat dapat menjadi kunci utama dalam mencegah karhutla sejak dini. “Kita semua punya peran. Kalau sama-sama peduli, dampak buruk karhutla bisa kita hindari,” pungkas Riskon.

Upaya Kolaboratif untuk Mencegah Karhutla

Untuk mencapai tujuan tersebut, Riskon menekankan pentingnya kolaborasi antara pihak-pihak terkait. Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan:

  • Peningkatan koordinasi antara pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat
  • Pelibatan relawan secara aktif di posko-posko siaga karhutla
  • Edukasi masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan dan lahan
  • Penggunaan metode alternatif dalam membuka lahan tanpa pembakaran
  • Pemantauan kondisi cuaca dan pengambilan langkah preventif


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *